Usaha perasuransian merupakan salah satu bentuk lembaga keuangan bukan bank yang menyajikan perlindungan kepada pihak tertanggung karena apabila terjadi sesuatu dengan yang diasuransikan tersebut di masa mendatang, pihak tertanggung akan memperoleh uang untuk mengganti kerugian yang terjadi.

Jasa asuramsi dalam tata kehidupan ekonomi rumah tangga dibutuhkan dalammenghadapi risiko keuangan yang timbul sebagai akibat datangnya kematian pada anggota ekonomi rumah tangga yang menimbulkan masalah bagi yang ditinggalkan dan risiko atas harta benda yang dimiliki. Jasa asuransi akan semakin berkembang apabila pelaku ekonomi mikro (rumah tangga) maupun pelaku ekonomi makro (dunia bisnis dan pemerintah) mempunyai keinginan yang meningkat untuk mengurangi kemungkinan timbulnya kerugian yang belum diketahui secara pasti, di masa mendatang melalui usaha perasuransian.

Asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung meningkatkan diri kepada tertanggung dengan menerima premi asuransi. Dalam asuransi terkandung kemauan untuk menetapkan risiko kecil yang sudah pasti untuk menanggung risiko besar yang, belum pasti, atau terkandung kesediaan untuk membayar risiko yang kecil pada masa sekarang agar dapat menghadapi risiko besar yang mungkin terjadi pada masa mendatang. Risiko yang mungkin terjadi pada masa mendatang dipindahkan kepada perusahaan asuransi.

Objek asuransi
Objek asuransi adalah benda dan jasa, jiwa dan raga kesehatan manusia, tanggung jawab hukum, serta semua kepentingan lainnya yang dapat hilang, rusak, rugi, dan atau berkurang nilainya.

Fungsi asuransi
Usaha asuransi memiliki dua fungsi utama, yaitu :
1. Menaggulangi risiko yang dikadapi anggota masyarakat
2. Menghimpun dana masyarakat

Tujuan asuransi
Mengurangi risiko yang sudah ada dalam masyarakat dengan cara mempertanggungkan pada perusahaan asuransi. Risiko yang ada dalam masyarakat akan ditanggung perusahaan asuransi.
1. Dalam pertanggungan dapat dilakukan pencegahan kerugian yang akan memberikan keuntungan tertentu yang berupa pengurangan kerugian dan pengurangan biaya yang menyangkut pertanggungan tersebut.
2. Pencegahan dan perlindungan untuk memperkecil kerugian yang terjadi dapat berupa pengeliminiran sebab-sebab yang dapat menimbulkan kerugian, perlindungan produk, pengurangan kerugian, dan perlindungan agar produk yang telah rusak tidak semakin rusak.
3. Memberikan keuntungan tertentu pada masyarakat yang mengikuti asuransi karena dengan mengetahui besarnya risiko yang timbul dapat diketahui besarnya kerugian yang diderita (diukur).

Jenis-jenis Asuransi
Bilamana kita melihat cabang-cabang perusahaan asuransi yang ada di Negara kita, maka bentuk-bentuk asuransi dapat digolongkan sebagai berikut :
1. Asuransi Kerugian (Asuransi Umum), yaitu mengenai hak milik, kebakaran, dan lain-lain.
2. Asuransi Varia (marine insurance, asuransi kecelakaan, asuransi mobil dan pencurian).
3. Asuransi Jiwa (life insurance) yaitu yang menyangkut kematian, sakit, cacat, dan lain-lain.

John H. Magee dalam bukunya, General Insurance mengklasifikasikan asuransi sebagai berikut :
1. Jaminan Sosial (Social Insurance)
Merupakan “asuransi wajib”, karena itu setiap orang atau penduduk harus memilikinya. Jaminan ini bertujuan supaya setiap orang mempunyai jaminan untuk hari yuanya (old age). Bntuk ini dilakukan dengan “paksa”, misalnya dengan memotong gaji pegawai sekian persen setiap bulan (umpamanya 10%).
2. Asuransi Sukarela (Voluntary Insurance)
Bentuk ini dijalankan secara sukarela (voluntary), jadi tidak dengan paksaan seperti jaminan social. Jadi setiap orang bisa mempunyai atau tidak mempunyai asuransi sukarela ini.

Asuransi sukarela dapat dibagi dalam dua jenis yaitu :
1. Government Insurance, yaitu asuranci yang dijalankan oleh Pemerintah atau Negara, misalnya : jaminan yang diberikan kepada prajurit yang cacat sewaktu peperangan.
2. Commercial Insurance, yakni asuransi yang bertujuan untuk melindungi seseorang atau keluarga serta perusahaan dari resiko-resiko yang bias mendatangkan kerugian. Tujuan perusahaan asuransi di sini ialah, komersial dan dengan motif keuntungan (profit motive).

Commercial Insurance dapat digolongkan lagi sebagai berikut :
a. Asuransi Jiwa (Personal Life Insurance)
Asuransi ini bertujuan untuk memberikan jaminan kepada seseorang atau keluarga yang disebabkan oleh kematian, kecelakaan, serta sakit. Contoh Perusahaan Asuransi Jiwa yang ada di Indonesia :
• PT. Asuransi Jiwa Raya
• Asuransi Jiwa Dharma Nasional
• Asuransi Jiwa Bumi Putera 1912
b. Asuransi Kerugian (Property Insurance)
Bentuk ini sama dengan Asuransi Umum di Indonesia, bertujuan memberikan jaminan kerugian yang disebabkan oleh kebakaran, pencurian, asuransilaut, dan lain-lain. Contohnya :
• PT. Asuransi Umum Indonesia
• PT. Asuransi Kerugian

Risiko (Risk)
Risiko adalah ketidak tentuan atau uncertainly yang mungkin melahirkan kerugian (loss). Risiko itu sendiri dapat kita klasifikasikan sebagai berikut :
• Speculative risks, yaitu risiko yang bersifat spekulatif yang bias mendatangkan rugi atau laba. Misal : seorang pedagang bisa untung atau rugi dalam usahanya.
• Pure risks, yaitu risiko yang selalu menyebabkan kerugian.

Peril
Peril ialah segala sesuatu yang bisa menimbulkan kerugian. Antara peril dan risk rapat sekali hubungannya.

Hazard
Hazard ialah suatu keadaan yang menambah kemungkinan terjadinya peril (kerugian), atau disebut pula “hazar is a condition that increases the change of loss arising from peril”.

Mengenai hazard dapat kita bagi pula atas :
1. Physical hazard, yaitu hazard yang berbentuk fisik dan mengandung unsure objektif.
2. Moral hazard, yaitu hazard yang menyangkut diri seseorang dan mengandung unsure subjektif.
3. Morale hazard, yaitu hazard yang ditimbulkan oleh tindakan yang kurang hati-hati sehingga menimbulkan kerugian.

Premi Asuransi
Secara umum, premi adalah sesuatu yang diberikan sebagai hadiah atau derma atau suatu pembayaran tambahan diatas pembayaran normal.
Dalam asuransi jiwa yang perlu diperhatikan adalah penentuan tariff (rate making), karena hal tersebut akan menentukan besarnya premi yang akan diterima. Tariff atau premi yang ditetapkan harus bisa menutupi claim (risiko) serta biaya-biaya asuransi, dan sebagian dari jumlah penerimaan perusahaan (keuntungan).
Dalam penentuan tariff asuransi, ada tiga elemen penting yang harus diperhatikan di dalam mengkalkulasi premi itu, yakni :
1. Table kematian (mortality tables)
2. Penerimaan bunga (Interest)
3. Biaya-biaya Asuransi (cost of insurance)